Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Beranda blog Halaman 63

Peringati Hari Anti Tambang, WALHI Sulbar Gelar Diskusi Tematik

Kegiatan diskusi tematik WALHI Sulbar .

Gandangdewata.com, – Mamuju – Isu terkait persoalan tambang dan beberapa penyebab kerusakan lingkungan tentu menjadi perhatian sejumlah elemen yang ada.

Hal tersebut memantik Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sulbar menggelar diskusi tematik dalam rangka memperingati hari Tambang se-Indonesia pada Rabu (29/5) di warkop Lobby, Jl Diponegoro Mamuju.

Dalam kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah aktivis pemerhati lingkungan, insan pers serta perwakilan akademisi.

Kepala Operasional WALHI Sulawesi Barat Jance E Walangitan mengatakan, menurut kami melihat kondisi Sulawesi Barat dimana wilayah geografisnya ini sangat kental dengan hutan atau wilayah hutannya sangat luas, dipeta masuk dalam kawasan quarles atau penyangga sehingga penting kita melakukan diskusi sebagai langkah awal kami di Sulbar ini.

Jance menjelaskan bahwa, dihari Anti Tambang ini bagaimana kita bisa melihat bahwa persoalan – persoalan di Sulbar khususnya tambang yang merusak lingkungan dan walaupun misal ada yang tidak merusak, dia butuh proses penyelesaian masalah agar masyarakat tidak terkena dampak adanya eksploitasi tambang tersebut.

” Kita harus bisa mendorong pemerintah dan publik untuk melakukan pres atas kondisi kerusakan tambang, karena kita tau bahwa bukan hanya hari ini saja rusak, tetapi itu bisa berdampak jauh kedepan,” kata Jance.

Lebih jauh dirinya mengungkapkan bahwa, selain itu daya rusaknya tidak akan bisa ditandingi dengan dana yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk menggantikan kerusakan lingkungan.

Dengan banyaknya perusahaan, lewat KPK pun menginstruksikan bahwa semua perusahaan yang bermasalah harus dihentikan,” ujar pria berambut gondrong ini.

Jance menambahkan bahwa pihaknya akan tetap berusaha melakukan advokasi kepada sejumlah perusahaan yang diduga bermasalah.

“Kami akan tetap berusaha bagaimana mengadvokasi perusahaan – perusahaan yang diduga bermasalah sebagai upaya menjaga kelestarian lingkungan lebih panjang lagi kedepan,” terangnya.

Selain itu kami meminta keterlibatan teman – teman media, NGO, akademisi termasuk warga sendiri untuk bisa sama sama menyuarakan perusahaan di Sulawesi Barat khususnya di persoalan tambang,” harap Jance.

Sementara saat ditanya kesediaan Walhi Sulbar untuk menggugat perusahaan bermasalah, ia menyebut bahwa soal gugatan kita lihat proses, karena kami baru di Sulbar, tetapi tentu kami butuh dukungan termasuk data yang konfrehensif dan jika betul itu terjadi dan ada oknum terlibat, kita bisa gugat sama sama dan melaporkan ke KPK .

Selain itu dirinya memaparkan bahwa semua perusahaan yang bergerak dalam bidang mangan, itu sudah didorong oleh pemerintah pusat harus mempunyai smelter, sehingga terkhusus di Sulbar ini terkait mangan itu tidak bisa dikelolah kalau tidak mempunyai smelter (sebuah fasilitas pengolahan hasil tambang yang berfungsi meningkatkan kandungan logam, seperti timah,nikel,tembaga,emas dan perak hingga mencapai tingkat yang memenuhi standar sebagai bahan baku produk akhir).

“Kita tau bahwa di Sulawesi Selatan sendiri belum ada smelter dan baru diusul oleh Kabupaten Bantaeng dan termasuk di Papua yakni Freeport,” kata Jance.

Sementara di Sulbar beberapa perusahaan mungkin baru masuk tahap eksplorasi, dan jika sudah melewati batas waktu maka dia wajib dibredel atau dihapuskan apabila perusahaan bergerak di bidang mangan tersebut tidak mempunyai smelter, ” cetus Jance.

Ditempat yang sama Rahmat Idrus, SH.MH selaku akademisi mengatakan bahwa, dalam aspek akademisi persoalan lingkungan ini terkhusus di Sulbar belum dianggap suatu hal urgen bagi sebagian masyarakat, nanti mengeluh ketika sudah ada dampak seperti banjir dan lainnya.

Dirinya berharap ada upaya untuk mengedukasi masyarakat terkait persoalan lingkungan.

” Perlu ada edukasi kepada masyarakat terkait masalah lingkungan,” kata Rahmat Idrus.

Sementara pada aspek hukum jika bicara isu lingkungan menurutnya memang ada disharmonisasi hukum, sehingga dibutuhkan upaya harmonisasi hukum di bidang pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan.” Simpul Rahmat Idrus Rabu (29/5).

(Zen/Adi).

Isu People Power, Memantik Polres Metro Mamuju Lakukan Patroli Patra

Kapolres Metro Mamuju Muhammad Rivai Arvan bersama dengan Tim Phyton Polres Metro Mamuju saat berada di Warkop Kopi Paste Mamuju.

Gandangdewata.com, – Mamuju – Isu People Power yang terus bergulir seolah menjadi pemantik Jajaran Polres Metro Mamuju untuk melakukan antisipasi pengamanan.

Pasca Penetapan rekapitulasi hasil penghitungan dan perolehan suara tingkat nasional dan luar negeri Pileg dan Pilpres 2019 dihelat KPU RI,Jakarta Pusat, Selasa (21/5/19) jajaran Polres Metro Mamuju terlihat siap siaga di Warkop Kopi Paste Mamuju sebagai upaya untuk mengantisipasi adanya isu People Power pada (22/5) besok.

Kapolres Mamuju AKBP Muhammad Rivai Arvan yang saat dikonfirmasi mengatakan, sesuai perintah Kapolda untuk melaksanakan patroli Patra sebagai upaya mengantisipasi imbas dari Jakarta, sehingga kita di wilayah tetap siaga pada tanggal 21 sampai tanggal 22 Mei 2019.

“Sebenarnya ini sudah berlangsung dari kemarin, pas pengumuman KPU RI disamping juga ini bulan Ramadhan dimana kegiatan masyarakat banyak yang melaksanakan ibadah dan mungkin akan sampai pagi sampai tanggal (22/5) ini berakhir,” kata Rivai Arvan.

Jika eskalasi meningkat mungkin kami juga akan tetap meningkatkan kesiapan, dimana kalau di Jakarta adem maka tentu di wilayah juga pasti menyesuaikan, Karena teman – teman di Jakarta siaga satu otomatis kita disini mengimbangi,” Ujar Rivai Arvan.

Lebih jauh dirinya menjelaskan bahwa, terkhusus di Kabupaten Mamuju terkait masalah Pilpres, Alhamdulillah kemarin kita sepakat untuk menjaga persatuan dan kesatuan, tidak ada yang anarkis sementara yang keberatan itu diajukan sesuai dengan konstitusional.

“Alhamdulillah semua partai politik dan semua caleg – caleg sudah mengadukan keberatannya, mungkin ada yang mengadukan ke Bawaslu Kabupaten maupun di Provinsi,” imbuhnya.

Menanggapi akan adanya isu people power Pada tanggal 22 Mei 2019 dirinya mengungkapkan bahwa, kemarin memang ada isu seperti itu, tetapi kami sudah sampaikan dan beri pemahaman apa yang akan dia suarakan termasuk ada satu orang yang kita periksa karena dia mau unjuk rasa besok (22/5), yah tentu kita sampaikan alasannya apa?

Labih jauh Rivai Arvan menjelaskan bahwa terkait isu yang kemudian akan disuarakan, itu masalah pemilu curang, habaib yang di kriminalisasi dan terkait banyaknya orang meninggal pada saat pemilu, namun saat kita tanya datanya mana, tetapi itu hanya didapat melalui melalui media sosial.

Menurut Rivai Arvan, setelah kita berikan pemahaman, sampai akhirnya yang bersangkutan membatalkan aksinya,” terangnya.

Dirinya berharap terkhusus di ibukota Provinsi Sulawesi Barat ini agar seluruh elemen masyarakat untuk tetap menjaga persatuan dan kesatuan.

” Mari kita sama sama khsusunya di ibukota Provinsi ini untuk seluruh elemen masyarakat agar tetap menjaga persatuan dan kesatuan, meskipun ada perbedaan namun pada hakikatnya perbedaan adalah hal yang lumrah dalam demokrasi,” ujar Rivai Arvan.

Semua tokoh – tokoh yang ada disini baik itu dari partai politik maupun caleg semua menghormati konstitusi, dan Alhamdulillah semua berjalan dengan baik, meski ada riak itu sudah pasti karena jika ada kekurangan atau ada merasa dicurangi mereka semua mengajukan secara konstitusional, jadi kita berharap semoga ini berjalan dengan baik dan tetap menjaga persatuan dan kesatuan.” Simpul Rivai Arvan Selasa (21/05).

(Zen/ Adi).

Pencari Nafkah Desa Sumare Menuju Laut Lepas

Potret perahu nelayan desa Sumare Senin (20/5)

Gandangdewata.com, – Mamuju, – Terlihat jelas putih pasir pantai di tapak kaki tak beralas itu, para pencari nafkah bergegas kе laut lepas, perahu Papan talinya perlahan dilepas pada tambatan yang kini mulai ambruk itu.

Nelayan Desa Sumare Saat akan menuju Laut Lepas

Nahkoda berbaju biru itu tampak berdiri diatas perahu miliknya seolah menjadi pemantik bahwa mereka akan kembali Membela laut menuju harapan di Rumpon yang jauh di laut lepas.

Tepatnya Senin (20/5) jarum jam menunjukkan pukul 17 :30 WITA, saya berdiri diatas tanggul penahan ombak di Dusun Talise Lambang Desa Sumare, Kecamatan Simboro Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat, sembari memotret sebagian perahu milik nelayan berjejer rapi dibibir pantai.

Oh iya sejak kunjungan presiden RI ke 7 Joko Widodo ketempat ini pada tahun 2014 lalu, kini Desa yang jaraknya kurang lebih 15 KM dari pusat kota Mamuju juga disebut sebagai kampung nelayan.

Kampung Nelayan, begitu sebagian orang mengenal Desa yang jarak tempuhnya hanya sekitar 20 menit dari Kota Mamuju ini dengan menggunakan roda dua tentu akan mengantarkan kita pada sebuah pemikiran bahwa, masyarakat yang bermukim disekitar daerah pesisir pantai tentu kita sudah dapat mengidentikkan dengan profesi nelayan.

Memang ia, masyarakat Desa Sumare ini hampir sebagian menggantungkan hidupnya dengan mengandalkan profesi nelayan. Aktifitas kesehariannya, mereka habiskan dilaut lepas atau lebih dikenal dengan Rumpon (Alat Bantu Penangkap Ikan) yang dipasang di laut lepas dengan jarak 20 mil dari daratan.

Indonesia negara yang cukup dikenal sebagai negara maritim dengan luas perairannya lebih luas dari wilayah daratan, tentu memiliki potensi bahari yang melimpah dimana lautan memiliki badai, memiliki pasang surut dan di kedalamannya memiliki mutiara, terkadang tenang namun juga menghanyutkan. Memiliki amarah yang luar biasa tinggi namun juga kesabaran yang tak terhingga serta menyajikan kehangatan ingatan dan beragam pengibaratan dengan perjalanan kehidupan bagi para nelayan Desa Sumare.

Terkhusus di Desa Sumare, membincang kehidupan nelayan yang bermukim disepanjang pesisir pantainya, tentu ada banyak ragam cerita berupa suka dan duka atas profesi yang mereka lakoni.

Sore tadi sembari menunggu bedug magrib berbunyi, saya memilih berbincang dengan seorang nelayan seperti, Rusman yang tinggal di pesisir pantai Sumare sedikit menceritakan suka duka menjadi seorang nelayan.

“Jika cuaca bagus tentu kami juga bersyukur, karena tidak ada hambatan dalam mencari ikan di rumpon sana,” ujar Rusman sembari menatap lepas kearah laut menyaksikan saat matahari beristirahat sejenak dаrі pekerjaanya.

Dirinya menuturkan bahwa ikan – ikan hasil tangkapan dari rumpon, akan dijual dan sebagiannya untuk kebutuhan dibawah kerumah bersama keluarga.

“Kalau lagi dapat banyak tentu kita jual ke Mamuju sebagiannya kita bawa kerumah untuk dimakan bersama keluarga,” kata Rusman.

Hal berbeda yang akan dihadapi oleh mereka jika musim cuaca yang tidak bersahabat, waktu itu akan menjadi waktu paceklik bagi nelayan Desa ini.

“Kalau cuaca tidak bagus penghasilan juga tentu tidak menentu, bahkan tak jarang kami mengalami kerugian sebab tidak sesuai modal yang keluarkan seperti pembelian bahan bakar minyak dan beberapa kebutuhan lainnya,” ucapnya Senin (20/5).

Meski demikian mereka tentu tak patah semangat dalam menjemput Reski Tuhan sebab mereka sudah tau bahwa Hidup tak ѕеlаlu semanis madu, namun terkadang seasin ombak laut уаng menerjang batu dan ujung perahu mereka yang selalu membela laut lepas.

(Zen/Adi).

DPRD Sulbar Dan KPK Gelar Rapat Koordinasi

Ketua DPRD Sulbar bersama dengan KPK RI

Gandangdewata.com, – Sulbar – Ketua DPRD Provinsi Sulawesi Barat Amalia Fitri bersama Kepala Koordinator Wilayah VIII Komisi Pemberantasan  Korupsi Republik Indonesia (KPK RI ), menghadiri rapat koordinasi DPRD Provinsi Sulawesi Barat bersama tim koordinasi wilayah VIII KPK dalam rangka koordinasi perencanaan penganggaran dan keuangan provinsi Sulawesi Barat.

Rapat tersebut berlangsung diruang rapat pimpinan lantai 2 gedung DPRD Provinsi Sulawesi Barat  Kamis, (16/5).

Kepala koordinator wilayah VIII KPK RI, Adliansyah Malik Nasution mengharapkan perlunya peggunaan teknologi dalam mengelola keuangan.

Menurutnya hal yang paling penting untuk diperhatikan terkait efisiensi dan efektifitas segala unsur terkait serta membentuk suatu komitmen yang berfokus pada konsistensi merupakan kunci sederhana keberhasilan.

Rapat  tersebut juga dihadiri sejumlah anggota DPRD Provinsi Sulawesi Barat, Inspektorat Provinsi Sulawesi Barat

(HMS)

Rajut Silaturahmi, DPRD Sulbar Gelar Buka Puasa Bersama

Kapolda Sulbar Brigjen Pol Baharuddin Djafar

Gandangdewata.com, – Mamuju – sebagagai upaya merajut silaturahmi di bulan ramadhan, DPRD Provinsi Sulawesi Barat menggelar kegiatan buka puasa bersama di gedung DPRD Sulbar (13/5).

Dalam kegiatan tersebut, Gubernur Sulbar Ali Baal Masdar juga ikut bersama dengan Kapolda Sulbar, Brigjen Pol Baharuddin Djafar, Wakapolda Sulbar, Kajari, Lanal serta Raja Mamuju dan seluruh Anggota DPRD Sulbar .

Pada kesempatan tersebut, Kapolda Sulbar Brigjen Pol Baharuddin Djafar menyempatkan  membawa tausia sebagai pengisi waktu menjelang berbuka puasa.

(HMS)

IM – Mateng Majene Masa Bakti 2019 – 2020 Resmi Dikukuhkan

Acara pengukuhan IM Mateng Majene

Gandangdewata.com, – Mamuju Tengah- Pengukuhan pengurus Ikatan Mahasiswa Mamuju Tengah (IM Mateng) Majene masa bakti 2019 – 2020 dihelat di Pendopo, Mamuju Tengah, Kamis (16/5) berjalan dengan lancar.

Pada kegiatan tersebut dihadiri oleh Sekertaris Daerah Mamuju Tengah H. Askary, S.Sos. M.Si. bersama Asisten III Kabupaten Mamuju Tengah H. Bahru, S.Ip

Ketua umum IM – Mateng terpilih Yuliana mengungkapkan ucapan Terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Mamuju Tengah yang memberikan fasilitas pada acara pengukuhan tersebut.

“kami mengucapkan terima kasih kepada pemerintah Mateng yang telah memberikan fasilitas dalam kegiatan pengukuhan kali ini,” sebut Yuliana.

Harapan saya sebagai ketua umum terpilih kepada dewan pembina dan Konsultasi IM – Mateng Majene untuk kiranya selalu memberikan masukan dimana sifatnya membangun dan juga keritikan jika kami keliru dalam menjalankan tugas kami, karna kami sadar bahwa kami masih baru dan muda dalam memimpin sebuah organisasi.

Komitmen kami adalah tetap berpegang teguh pada anggaran dasar dan anggaran rumah tangga lembaga IM – Mateng Majene dan menegaskan bahwa lembaga ini adalah lembaga yang siap membatu dan mewujudkan misi pemerintah kabupaten Mamuju tengah,” ungkap Yuliana.

Setelah pengukuhan ini secepatnya kami akan melakukan rapat kerja dan bisa segera fokus melaksanakan program kerja kami kedepan,” terangnya.

Irvan Said selaku Demisioner IM – Mateng Majene dalam sambutannya memberikan ucapan selamat kepada kepengurusan baru dari organda yang pernah dipimpinnya ini.

“Selamat atas terpilihnya Yuliana sebagai ketua umum dan Adi Prasetyo selaku sekertaris Umum serta seluruh jajaran pengurus IM – Mateng pada Musyawarah Besar yang telah selesai dilaksanakan,” ujar Irvan.

Pada kesempatan tersebut Irvan juga menyampaikan ucapan selamat Milad IM -MATENG Majene pada 2 Mei 2019 lalu, dimana Ikatan ini lahir tepat pada tanggal 2 Mei 2013 , 5 bulan setelah Mamuju Tengah diresmikan tanggal 14 Desember 2012 lalu.

“Saya menitip harapan kepada pengurus baru bahwa tetaplah menjaga integritas lembaga dan melaksanakan program kerja semaksimal mungkin serta melakukan kegiatan bersama dengan kader IM – Mateng Majene sesuai dengan aturan organisasi,”kata Irvan.

Ditempat yang sama Sekertaris Daerah Mamuju Tengah Askary dalam sambutannya memberikan apresiasi kepada mahasiswa yang masuk dalam pengurus IM – Mateng Majene ini serta menegaskan bentuk perhatian Pemkab Mateng dalam anggaran kontrakan Sekretariat berupa asrama mahasiswa di beberapa daerah, seperti Palu, Makassar Mamuju dan Majene.

Pada momen pengukuhan tersebut, Askary tak lupa menitipkan harapan kepada pengurus IM – Mateng Majene untuk tetap menjaga nama baik lembaga dan nama baik daerah Kabupaten Mamuju Tengah.

Selain itu dirinya juga memberikan gambaran tentang potensi-potensi yang ada didaerah Lalla’ Tassisara ini.

“Mamuju Tengah adalah Kabupaten termuda di Sulawesi Barat, ada begitu banyak potensi dimiliki daerah kita ini, sehingga masih banyak hal yang bisa kita lakukan serta lapangan kerja pun masih terbuka luas untuk generasi pelanjut kedepannya,” terang Askary.

Tetaplah belajar dengan baik dirantau, karena apapun alasannya kalian adakah mahasiswa yang akan menjadi pemimpin daerah.” Simpul Askary.

Untuk diketahui Organisasi kedaerahan yang dibawah kepemimpinan Yuliana sebagai ketua Umum dari hasil Musyawarah IM – Mateng Majene dengan Surat keputusan (SK) nomor: 002/a/dpkp/im-mateng/majene/04/2019 telah resmi dikukuhkan.

(Adi).

Diduga Tercemari, Walhi Sulbar Kunjungi Sungai Barakkang

Sampel Air Sungai Barakkang Kabupaten Mamuju Tengah.

Gandangdewata.com, – Mamuju Tengah – Dugaan pencemaran Sungai Lumu Desa Barakkang Kabupaten Mamuju Tengah kini terus menjadi perhatian sejumlah elemen.

Tak terkecuali Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sulbar juga ikut merespon akan hal tersebut.

Rahmat Bidang Advokasi Walhi Sulbar saat dikonfirmasi via WhatsApp Kamis (16/5) mengatakan,kami sudah kunjungi  Desa Barakkang Kabupaten Mamuju Tengah pada tanggal 15 Mei 2019 kemarin yang juga sungainya tercemar.

“Ini jelas merusak lingkungan, dan kejadian beberapa hari yang lalu bukan pertama kali terjadi tetapi sudah beberapa kali seperti yang disampaikan warga saat kami melakukan kunjungan,” ujar Rahmat

Bidang Advokasi Walhi Sulbar in jugai berharap ada perhatian dari Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sulawesi Barat.

“Dinas Lingkungan Hidup Privinsi Sulbar juga harus turun tangan, agar kejadian seperti kemarin tidak terulang lagi,” harap Rahmat.

Selain itu dirinya menyebut bahwa pihaknya sudah melihat kondisi air sungai Barakkang yang diduga tercemari.

“Kami sudah melihat kondisi sungai Barakkang termasuk dari pihak Dinas Perikanan Kabupaten Mamuju Tengah untuk mengambil sampel air sungai untuk dilakukan uji Lab,” jelas Rahmat.

Saat ditanya soal apakah ada upaya uji Lab dari internal WALHI Sulbar sendiri, dirinya belum bisa memastikan hal tersebut.

Untuk sementara, kami Walhi Sulbar belum bisa sejauh itu,karena kami berkantor di Sulbar baru 1 minggu yang lalu.” Kunci Rahmat Kamis (16/5).

(Adi)

Begini Respon Walhi Sulbar Atas Kondisi Sungai Lumu

Sumber Foto : FB Hamka

Gandangdewata.com, – Sulbar – Dugaan pencemaran sungai Lumu Kabupaten Mamuju Tengah, Provinsi Sulawesi Barat dimana kondisi air sungai berwarna hitam mengeluarkan bau busuk,
berbusa serta banyaknya ikan yang mengapung juga mendapat respon dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sulawesi Barat.

Eksekutif WALHI wilayah Sulbar M.Ikhsan Welly saat dikonfirmasi via telepon Selasa (14/5) mengatakan, kami tentu sangat menyayangkan adanya fenomena kerusakan lingkungan ini, mesti sejak awal juga kami sudah menemukan hal yang sama di wilayah Pasangkayu atas kerusakan lingkungan yang diduga dilakukan oleh sejumlah pihak perusahaan.

Selain itu atas adanya hal ini, kami mengutuk keras kepada pemerintah yang telah memberikan ijin kepada perusahaan tanpa kemudian melihat aspek dampak lingkungannya disekitar,” tegas M. Ikhsan.

Dirinya menyebut bahwa, semestinya pemerintah harus melihat aspek dampak lingkungan sebelum memberikan ijin kepada sejumlah perusahaan yang akan beroperasi dalam sebuah wilayah.

“Sejak awal kami juga sudah menyampaikan apa yang menjadi langkah kami, hanya saja pemerintah tidak merespon  sehingga kami tidak bisa berbuat apa – apa,” kata Ikhsan.

Perlu juga kami sampaikan bahwa, saat ini terkhusus WALHI Sulbar masih dalam masa transisi, jadi kami sementara mencari siapa – siapa yang kemudian konsentrasi dalam hal lingkungan hidup,” terangnya.

Saat ditanya apa langkah untuk menyikapi dugaan pencemaran sungai Lumu Kabupaten Mamuju Tengah, Eksekutif WALHI Sulbar ini menyebut pihaknya akan melakukan kajian terlebih dahulu.

Kita juga belum bisa menyimpulkan lebih jauh, karena kami juga belum mengetahui apa penyebabnya.” Simpul M.Ikhsan Welly Selasa (14/5).

(Adi).

Sungai Lumu Diduga Tercemari Limbah, Hamka Koordinasi Ke DLHK Mateng

Hamka (Anggota DPRD Kab. Mamuju Tengah) saat koordinasi dengan Kadis DLHK Mateng.

Gandangdewata.com, – Mamuju Tengah – Dugaan pencemaran sungai Lumu Kabupaten Mamuju Tengah beberapa hari yang lalu cukup meresahkan warga sekitar sampai saat ini.

Kondisi air sungai berwarna hitam mengeluarkan bau busuk,berbusa serta banyaknya ikan – ikan mati itu diduga berasal dari sungai kecil Desa Tinali Kabupaten Mamuju Tengah yang didalamnya ada perusahaan Kelapa sawit.

Hal tersebut disampaikan Hamka Anggota DPRD Kabupaten Mamuju Tengah saat di konfirmasi Selasa (14/5).

Hamka menyebut bahwa untuk sementara dugaan masyarakat atas kondisi sungai Lumu itu adalah diduga disebabkan oleh limbah perusahaan.

Dengan kondisi saat ini, saya berharap hal ini tidak boleh dibiarkan, karena ini jelas merusak lingkungan,” kata Hamka.

Selain itu Hamka mengaku sudah melakukan koordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Mamuju Tengah untuk menyelesaikan hal tersebut.

“Saya sudah koordinasi dengan kepala Dinas Lingkungan Hidup Dan Kebersihan Kabupaten Mamuju Tengah untuk menindak lanjuti hasil temuan kami dan laporan masyarakat dilapangan,” ujar Hamka.

Kami berharap Dinas Lingkungan Hidup untuk tidak diam melihat hal tersebut, karena jelas ini merugikan masyarakat khususnya yang tinggal disekitar sungai Lumu dan petani tambak secara khusus.”Kunci Hamka Selasa (14/5).

(Adi).

Pemdes-Hansip Bangun Sinergitas, Jaga Kondusifitas Desa Tumonga

Personel Hansip terima arahan dari Babinsa

MAMUJU Mewujudkan pembangunan dalam suatu desa, tentu tidak lepas dari seberapa kondusif keadaan sosial masyarakatnya.

Menciptakan keadaan tersebut merupakan tanggung jawab semua pihak.

Olehnya, Pemerintah Desa (Pemdes) Tumonga, Kecamatan Kalumpang mengajak pasukan Pertahanan Sipil (Hansip) desa untuk bersama menjaga kondusifitas dalam masyarakat.

“Kerja sama hansip dengan pemerintah sangat diharapkan demi terjaganya ketentraman desa,” ungkap Kepala Desa (Kades) Tumonga, Yordan kepada belasan Hansip, Selasa (14/5/2019).

Proses pelatihan Hansip

Yordan berharap, Hansip dapat bekerja tanggap dan cekatan dalam menyikapi berbagai masalah, baik internal masyarakat maupun fenomena bencana alam.

Hal tersebut, lanjut Yordan, perlu dimiliki Hansip agar kehidupan bermasyarakat dapat berlangsung aman dan tentram.

Menurutnya, keberhasilan pembangunan di desa bukan ditentukan dari kehebatan kepala desa, namun sinergitas semua pihak.

“Jadi keberhasilan dalam menjaga ketentraman desa adalah keberhasilan kita bersama, bukan karena kuat dan gagahnya pak desa semata,” tutur Yordan.

Pemdes Tumonga juga melibatkan Bhabinkamtibmas, Briptu Fadly dan Babinsa wilayah, Koptu Jimmy Pieter dalam memberi arahan kepada Hansip.

Mereka mengajarkan cara menangani masalah yang terjadi di masyarakat dan kesiapsiagaan menghadapi bencana alam.

Sekadar diketahui, Desa Tumonga merupakan salah satu wilayah pelosok yang ada di Kecamatan Kalumpang, Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat. (**/Gan)

 

Baca Juga Berita Populer