Anhar Gonggong : Kita Merdeka Karena Orang Tercerahkan

161
Foto bersama Prof Anhar Gonggong .

Gandangdewata.com – Mamuju – Tentu bukan hanya sekedar memenuhi hasrat intelektual secara personal atas lawatan sosok sejarawan Indonesia yakni Prof.Dr Anhar Gonggong ke Mamuju pada kamis, (20/06/19) lalu. Namun lebih daripada itu, tentu ini merupakan sebuah kesempatan besar bagi siapa saja yang ingin mengulik sejarah perjalanan negara ini meski hanya sebentar.

Membincang sejarah memang sebagian orang menganggap bahwa ini bukan sebuah pekerjaan mudah dan tentu membutuhkan proses panjang. Tetapi bukan sebuah alasan untuk tidak memacu diri mengetahui sejarah perjalanan negara ini melalui para ahli sejarah sekelas Anhar Gonggong.

Jika selama ini kita hanya bisa menyaksikan melalui layar kaca televisi atau melalui canel YouTube dibeberapa kegiatan diskusi dengan menghadirkan sosok sejarawan berambut gondrong ini, maka dengan kehadirannya di ibukota Provinsi Sulawesi Barat harus betul – betul kita manfaatkan untuk menggali ilmu yang ada pada diri sosok Anhar Gonggong.

Kita merdeka karena orang tercerahkan.

Kemerdekaan Indonesia tak jarang dipahami sebagai sebuah proses perjuangan yang panjang bagi para pemimpin kita dimasa lalu, baik itu secara personaliti maupun secara kolektif dengan cara kontak fisik. Namun hampir saja kita “Amnesia” atas kemerdekaan tersebut juga dapat diraih dari pemikiran jernih serta sikap bijaksana dari tokoh – tokoh bangsa.

Bagi sosok Anhar Gonggong secara gamblang ia menyebut bahwa kita bisa merdeka, kita bisa mempersatukan diri oleh karena ada kesadaran baru, dan siapa yang melahirkan kesadaran baru itu adalah orang – orang terdidik.

Tidak hanya sekedar terdidik tetapi dia juga tercerahkan, artinya kecerdasan intelektual (Akal) dan kecerdasan qolbu (hati nurani) senantiasa menjadi satu kesatuan integral yang senantiasa tertancap pada diri para pemimpin kita dimasa lampau.

Kecerdasan seperti inilah para pemimpin terdahulu kita telah menyebar luas,termasuk di Sulawesi dalam pengertian 4 suku bangsa besar diantaranya Bugis Makassar, Mandar dan toraja juga kemudian terkena imbas dari kesadaran baru itu, imbas dalam pengertian baik disamping kesadaran baru itu juga memang melahirkan suatu dorongan bahwa kita ini tidak boleh hanya selalu menjadi orang tertindas.

Spirit melepaskan diri dari ketertindasan.

Kemerdekaan Indonesia ini dimata pria kelahiran Pinrang Sulawesi Selatan tersebut tentu juga tidak terlepas dari fakta atas adanya ketertindasan oleh para penjajah saat itu, namun upaya melepaskan diri dari ketertindasan tidaklah bisa diraih dengan sendiri – sendiri.

Kata Anhar bahwa kita harus melepaskan diri dari ketertindasan itu, tetapi tentu tidak bisa dilakukan dengan sendiri – sendiri, oleh karena diperlukan kekuatan baru yang bisa saling menunjang.Maka kemudian kontan antara suku bangsa yang satu dengan yang lainnya pada saat itu telah memiliki sebuah kesadaran seperti datangnya pemimpin dari Jawa kebeberapa pulau termasuk Soekarno beberapa kali ke Sulawesi sekitar tahun 1940 an untuk menyebarkan kesadaran baru ini.

” Inilah dimulainya proses itu, sehingga sebenarnya kita tidak dipaksa tetapi ada upaya dilakukan oleh Soekarno mengajak untuk bersama – sama melawan penjajah dan membangun kemerdekaan dengan nama indonesia.

Indonesia jadi Pengikat.

Pada awalnya dari 3.370 kerajaan di Indonesia termasuk kerajaan di Sulawesi, Kalimantan dan Jawa itu masing – masing memiliki eksistensi, namun ketika mendengar Indonesia maka dengan sendirinya itu semuanya mati sebab adanya kesadaran baru dan menjadikan Indonesia sebagai pengikat. Sehingga tentu tidak bisa kita napikan bahwa Indonesia ini berdiri tegak diatas puing – puing kerajaan .

Meskipun kerajaan – kerajaan lokal ini hilang, tetapi dia kemudian mampu menciptakan sesuatu hal yang baru, dimana hal baru ini kalau kita pelihara dengan baik akan memberikan yang lebih luas kepada kita.

Kita bisa membayangkan bahwa ketika kita tidak merdeka atau tersekat dalam kerajaan, maka kemerdekaan itu yang menikmati cuman segelintir orang dimana hanya berkutat dilingkungan keluarga itu saja, tetapi karena kita terbuka sehingga diantara kita semua ini punya potensi menjadi pemimpin.

Dari diskusi singkat dengan Anhar Gonggong 4 hari yang lalu, maka ada hal yang cukup sederhana bisa dipetik bahwa Indonesia merdeka ini berangkat dari sikap upaya untuk membunuh segala bentuk ego demi hingga sampai pada sebuah ego negara maka lahirlah Indonesia.

(Adi).

BAGIKAN